Waspada DBD, Anak Walikota Cilegon Saja Sampai Dirawat di RS Siloam

CILEGON – Penyebaran penyakit demam berdarah (DBD) di Provinsi Banten masih mengkhawatirkan. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Banten, hingga pertengahan Februari 2016, jumlah kasus DBD di Banten sebanyak 1.003 kasus DBD yang tersebar di delapan kabupaten/kota. Dari jumlah tersebut sebanyak 29 orang meninggal dunia.

Kondisi ini merupakan ancaman kesehatan bagi masyarakat, termasuk di Kota Cilegon, terlebih lagi saat intensitas hujan semakin tinggi.

Bahkan korban DBD ini tidak pilih-pilih, anak Walikota Cilegon saja saat ini dikabarkan tengah dirawat di Rumah Sakit Siloam Tangerang, karena terjangkit DBD.

Menurut sumber dari kalangan keluarga, putri satu-satunya Walikota Cilegon Tubagus Iman Ariyadi itu, sudah menjalani rawat inap di rumah sakit sejak hari Senin lalu 7 Maret 2016.

“Saya dapat kabarnya Senin atau Selasa mulai dirawat, sampai sekarang belum pulang,” ujar sumber ini.

Perihal dirawatnya putri Walikota Cilegon akibat DBD juga dibenarkan oleh Haji Rahmatullah, kerabat dekat walikota.

Menurut Haji Rahmat, keluarga belum memastikan sang anak mendapatkan gigitan nyamuk Aedes aegypti apakah di lingkungan rumah atau di tempat lain.

“Iya masih dirawat di Siloam. Belum tau sumbernya dari rumah atau mungkin dari sekolah,” ujar pria yang akrab disapa Rahmat Peyor ini.

Demam berdarah seyogianya merupakan penyakit yang diberasal dari lingkungan yang kurang diperhatikan, sehingga nyamuk Aedes aegypti, hewan pembawa virus tersebut bisa berkembang biak dan menjangkiti manusia.

Berkaca pada kasus DBD yang dialami putri Walikota Cilegon itu, ancaman DBD di Kota Cilegon ternyata tidak hanya berlaku bagi masyarakat kalangan bawah saja dengan lingkungan tempat tinggal yang tidak terawat. DBD juga mengancam masyarakat kelas menengah keatas, dan lingkungan yang cenderung bersih dan terawat.

Diketahui, Dinas Kesehatan Kota Cilegon mencatat, ada sebanyak 30 penderita DBD dan 2 orang diantaranya meninggal dunia pada bulan Januari 2016.

Menurut Kepala Dinkes Cilegon, dr Arriadna, faktor cuaca yang selalu berubah dengan cepat bisa menjadi penyebab berkembangnya nyamuk. Untuk itu perlu adanya kesadaran masyarakat dalam membersihkan lingkungannya.

“Anggaran sebesar apapun dari pemerintah, tapi jika masyarakatnya tidak sadar lingkungan maka akan percuma. Pertumbuhan telur, jentik, sampai menjadi nyamuk harus dicegah,” ujarnya kepada BCO beberapa waktu lalu. (*)

Tags: