Rekrutmen PT KS di Luar Banten Jadi Polemik, Lulusan Vocational Training Juga Ikut Mengeluh Tidak Adanya Penempatan Kerja

Krakatau Steel

Krakatau Steel

CILEGON - Kebijakan manajemen PT Krakatau Steel (Persero) Tbk yang baru-baru ini melakukan rekrutmen tenaga kerja tingkat SMK di luar Provinsi Banten, menjadi polemik yang panjang karena banyak mendapatkan kecaman dari masyarakat.

Ternyata masalah tersebut selain memancing kemarahan masyarakat, juga membongkar fakta lama yang sempat ramai dipersoalkan berbagai pihak pada tahun 2014 lalu.

Salah seorang lulusan program Vocational Training PT KS, Ahmad Sulasikin, mengungkapkan keprihatinannya atas kebijakan rekrutmen tenaga kerja PT KS, yang baru ini.

Sulasikin merupakan salah satu dari banyak SDM lokal yang hanya mendapatkan “angin surga” dari manajemen PT KS melalui program Vocational Training, dan lulus pada tahun 2014 lalu.

Kendati sudah mendapatkan pelatihan kerja dan pembinaan hampir satu tahun di Pusdiklat PT KS, dan mendapatkan predikat lulus baik, hingga saat ini tidak ada kejelasan mengenai penempatan kerja bagi Sulasikin dan sejumlah temannya sesama lulusan VT, khususnya angkatan ke-4 tahun 2014.

“Awal lulus Vocational Training 4 saja kami tak ada penempatan, tapi mengherankan tidak lama berselang, PT KS buka lowongan kerja baru, dan kami yang sudah terlatih juga harus melalui tes lagi,” ujar Sikin kepada BCO, kemarin.

Sikin juga mengungkapkan bahwa ia bersama rekan-rekannya, sempat mengadu kepada Dinas Tenaga Kerja dan Komisi II DPRD Cilegon, terkait kebijakan rekrutmen tenaga kerja oleh PT Krakatau Steel yang dinilai tidak mengakomodir lulusan Vocational Training.

Saat itu, pihak manajemen PT KS beralasan bahwa kondisi PT KS sedang tidak sehat sehingga tidak ada kuota untuk rekrutmen tenaga kerja baru, yang menyebabkan lulusan Vocational Training tidak terserap maksimal.

“Faktanya cukup lucu dan mengherankan, kami ini (lulusan Vocational Training) sudah melalu pelatihan kerja, dan mereka (manajemen PT KS) sendiri yang mendidik dan menilai kami dengan predikat lulus. Pusdiklat tempat kami berlatih juga dibawah Pa Mujiono Katam selaku GM disana, kok heran hasil lulusannya dibiarkan, malah memilih dari lulusan sekolah yang belum terlatih kerja. Jelaskan ini aneh,” jelasnya.

Sikin sendiri menilai, pekerjaan level operator di PT KS merupakan pekerjaan mudah dan bukan spesialisasi keahlian, sehingga tidak masuk akal jika rekrutmen harus mencari SDM dari sekolah khusus atau dari luar wilayah Banten.

“Pekerjaan operator itu apa susahnya? Anak baru lulus sekolah saja bisa kok kerja begitu, kenapa harus ribet cari SDM di luar, ada apa sebenarnya? Makanya kebijakan ini harus dikritisi,” tegas Sikin, seraya mengaku bersama sejumlah lulusan Vocational Training akan mengikuti aksi unjukrasa di PT KS bersama gabungan elemen masyarakat, pada Rabu besok 4 Mei 2016. (*)